SPIRITUALITAS DEHONIAN

Ecce Venio

Sungguh, Aku datang untuk melakukan kehendak-Mu.” (Ibrani  10:9) merupakan mentalitas/sikap hati  Yesus terhadap perutusan-Nya, yang memang datang untuk melakukan kehendak Bapa. Kebebasan batin Yesus ini membuat-Nya mampu mengarahkan hidup, karya, dan doa-Nya kepada kehendak Bapa. Bahkan ketika bertemu dengan pertentangan kehendak,  prinsipnya tetap “… tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki” (Mat 26:39). Mengutamakan kehandak Allah dalam setiap keputusan, dan bila ada benturan kepentingan, nilai luhur yang dari Allah itu yang harus dikedepankan

Sikap kesiap sediaan ini sungguh menjadi penting agar kita bisa hidup dengan sadar, terencana, tidak  tanggung-tanggung, setia dan penuh dedikasi pada perutusan kita, sebagai manusia pembelajar.

Menyadari perutusan sebagai manusia pembelajar, kita datang dalam kesadaran pilihan, bahwa “aku datang” untuk melakukan kehendak Allah: sebagai manusia pembelajar.

Ecce venio ini juga memampukan kita meninggalkan budaya rutinisme, karena setiap kali mengambil tindakan atau melaksanakan rencana, yang bersangkutan akan sadar terhadap perutusannya. Hidupnya terarah/terencana dan terukur.

Sikap ini juga memberanikan diri meninggalkan kesenangan pribadi demi nilai yang lebih unggul. Dan bila ada kendak pribadi yang tidak sesuai dengan kehendak Allah, keterarahan dasar (opsio fundamentalis) ini memberanikan untuk mengambil sikap Pengorbanan dan METANOIA

Compassion

Ada sikap hati Yesus yang konsiten terhadap keterlantaran manusia, “Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala”. Mat (9:36, 14:14) Kemurahan hati Allah adalah teladan bela rasa yang menjadi nyata dalam hidup dan pelayanan Yesus.

Wujud bela rasa bukan hanya sekedar memperhatikan mereka yang miskin papa, menderita dan berkekurangan, tetapi juga  datang untuk semakin mengenal, memahami hidup dan persoalan yang membelit mereka. Dalam dunia pendidikan ini, sikap compassion ini sangat diperlukan, baik terhadap anak-anak didik yang membutuhkan perhatian permasalahan khusus (sosial ekonomi, psikologi, dll). Kita mesti mempunyai hati yang terbuka yang menghantar keterbukaan tangan untuk menerima mereka.

Komunitas yang berbelarasa tercermin dalam kerjasama yang solit, menyatukan perbedaan. Namun juga semakin menyadari bahwa mereka adalah satu tubuh dengan Yesus sebagai kepalanya (bdk. 1Kor 12:4-27).

Sint Unum

“Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku” (Yoh 17:20-21).

Sekolah sebagai sebuah Profesional Learning Community (PLC). Baik yang muda maupun yang dewasa, dengan menghidupi budaya “care” satu sama lain, masing masing merasa menjadi bagian yang bernilai dan saling membutuhkan, saling melengkapi. PLC memang mengandaikan kerja sama bagi kebaikan bersama di saat apapun.

Komunitas pembelajar ini bukan sekedar Organisasi, bukan pula sekedar Institusi, meskipun struktur organisatoris institusional diperlukan. Setiap anggota sungguh menjadi “organisme” yang menghidupi roh perutusannya.

Seluruh Anggota komunitas menyadari diri sebagai pembelajar, entah itu sebagai siswa, guru, kepala sekolah, orang tua, staff, dan yang lain. We serve and teach, we receive and learn. A teacher can never truly teach unless she is learning herself. Dalam kebersamaan, seluruh anggota komunitas selalu mengarahkan kepada perkembangan, baik itu pengembangan pribadi maupun pengermbangan profesi.

Nabi Cintakasih dan pelayan perdamaian

Pater Dehon mengharapkan dari para pengikutnya supaya mereka menjadi nabi cintakasih dan pelayan perdamaian manusia dan dunia dalam Kristus. “Dan semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraaan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya dan yang telah mempercayakan pelayanan perdamaian itu kepada kami. Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka. Ia telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami. Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan dengan Allah” (2 Kor 5:18-20).

Di tengah budaya kematian yang telah marasuk ke semua lini kehidupan, semangat rekonsiliasi dengan segala bentuk dan perwujudannya akan menjadi “oase” rohani. Tawaran sikap penerimaan ini tentu juga mengandaiakan kedewasaan pribadi sebagai perwujudan “…, pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai sekarang”.

 

 

DEHONIAN SCHOOL VALUES

Nilai-Nilai (Values) Sekolah Antonius (Sesuai dengan Karakter Spiritualitas Dehonian) antara lain:

  1. Emphasis on Catholic values
  2. Menghayati diri sebagai pribadi yang dikasihi Allah.
  3. Mempergunakan kebebasan yang diberikan Allah kepada masing-masing pribadi secara bertanggungjawab.
  4. Menghayati jati diri guru, karyawan, dan murid sebagai tugas panggilan dari Allah.
  5. Menemukan Allah dalam diri sesama dan alam semesta.
  6. Memegang taguh kesetiaan kepada ajaran Gereja.
  7. Membangun kesiapsediaan untuk dipergunakan Allah dalam karya keselamatan-Nya.
  8. High Characters
  9. Mengupayakan keunggulan akademik dengan tetap dijiwai dan bersemangatkan cintakasih.
  10. Menekankan integritas moral yang tinggi sebagai perwujudan iman.
  11. Memupuk kedisiplinan tinggi dalam rangka mengupayakan semua keberhasilan.
  12. Mengedepankan kejujuran sebagai nilai yang harus dipegang teguh dalam segalanya.
  13. Menghayati hidup dalam kesederhanaan yang terkait dengan sikap ugahari.
  14. Membentuk pribadi berkarakter yang terlihat dalam keterlibatannya pada masalah-masalah sosial: keadilan dan perdamaian solider terhadap orang lain dan karya kemanusiaan.
  15. Membangun pribadi tangguh berbelarasa yang melibatkan persepektif ganda; pengetahuan-aksi, kontemplasi-aksi.
  16. Membentuk pribadi yang berani ambil resiko
  17. Academic excellence
  18. Moving towards: Berani meninggalkan kemapanan yang mamatikan menuju kepada perkembangan diri yang lebih sempurna.
  19. Being the best you can be, meninggalkan sikap minimalistis, memperkembangkan diri/intelektual seoptimal mungkin seberapapun “talenta” (mutu input) yang dimiliki.
  20. Do My Best,memperkembangkan dan mempertanggungjawabkan seoptimal mungkin talenta masing-masing.
  21. Berorientasi pada proses belajar yang benar menuju hasil (output) yang maksimal.
  22. Mengembangkan kompetensi pribadi secara unggul dengan tetap menjunjung tinggi kerendahan hati(Ecce Ancilla).
  23. Mengupayakan eksplorasi terdalam dan pencapaian hasil tertinggi.

 

4.To Be Prophets of Love and Servants of Reconciliation.

  1. Meninggalkan budaya kematian dan memperkembangkan budaya kehidupan.
  2. Memupuk semangat kerendahan hati di dalam segala usaha keras.
  3. Mengutamakan cinta kasih dan perdamaian di tengah budaya kekerasan.
  4. Mengedepankan budaya pengampunan dalam menghadapi keretakan.
  5. Berpartisipasi aktif dalam Gereja dan masyarakat setempat, demi pelayanan kepada sesama.
  6. Melayani iman yang mampu mewujudkan keadilan dan perdamaian.
  7. Siap sedia berkorban demi nilai luhur keadilan dan kedamaian.
  8. Healthy social relationships: Sint Unum.
  9. Memupuk sikap terbuka dan berdialog bagi aneka macam suku, agama, dan budaya.
  10. Memperkembangkan sikap hormat antara siswa dan guru.
  11. Memupuk kepedulian sosial dan belarasa bagi sesama
  12. Berpegang teguh pada kejujuran: dalam seluruh perilaku, mampu mengekspresikan fakta-fakta dan keyakinan pribadi sebaik mungkin sebagaimana adanya.
  13. Memperkembangkan kesiapsediaan diutus untuk bekerjasama dengan sesama.
  14. Mampu berwawasan global dan bertindak lokal serta menjunjung kearifan daerah.
  15. Cinta tanah air secara sehat.

 

 

  1. Supportive Environment
  2. Membangun suatu komunitas pendidikan yang saling mendukung anggota untuk pelaksanaan tugas panggilannya secara optimal.
  3. Memperkembangkan kompetisi yang sehat demi perkembangan optimal.
  4. Mengupayakan dan memelihara lingkungan sekolah yang aman dan nyaman untuk proses belajar mengajar.
  5. Mengupayakan terciptanya lingkungan hidup yang asri, bersih, indah, dan sehat.

 

A loving heart is the beginning of

all knowledge